Jakarta - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengklaim proses cetak buku Kurikulum 2013 (K-13) sudah mulai lancar. Percetakan sebagai pihak penyedia dinilai punya semangat yang baik untuk segera mencetak dan mengirimkan buku ke sekolah-sekolah, khususnya untuk jenjang Sekolah Dasar (SD).
Staf Khusus Mendikbud Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan Agnes Tuti Rumiati mengatakan berbagai kendala terkait percetakan dan distribusi buku K-13 terus diatasi. Salah satunya, percetakan pemenang tender buku K-13 yang kurang modal sudah dieliminasi.
"Dulu percetakan terganggu (karena) di cash flow, tapi sekarang mulai lancar. Penyedia yang bermasalah, ordernya sudah dipindah ke penyedia lain," kata Agnes di Jakarta, Selasa (2/9).
Sebelumnya, dari total 31 penyedia atau percetakan yang menjadi pemenang tender menurut Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), sebanyak 6 penyedia mengundurkan diri karena kurang dana untuk memodali pesanan buku. Total buku K-13 yang dicetak mencapai 250 juta buku.
Agnes mengatakan percetakan sudah meminta tolong kepada Kemdikbud untuk mencari solusi atas pembayaran buku yang macet. Menurut Agnes, akhirnya Mendikbud memerintahkan seluruh Eselon I untuk turun ke dinas, sekolah, dan percetakan di seluruh Indonesia dengan harapan bisa mengatasi persoalan teknis di lapangan.
Buku K-13 untuk Semester I memang dipesan oleh sekolah, lalu sekolah membayar sendiri dengan memakai dana bantuan operasional sekolah (BOS). "Berbagai kendala sedang diatasi, mereka (percetakan) sudah menggunakan PT POS untuk mengirim. Sekarang tinggal bagaimana PT POS mendistribusikan ke sekolah secara cepat," kata Agnes.
Agnes mencontohkan PT Gramedia sudah 100 persen menyelesaikan pesanan buku K-13. Namun, buku-buku itu masih berada di percetakan karena menunggu proses pengiriman. "Saya tidak tahu persis berapa persen total buku yang sudah dicetak," ucapnya.
Menurut Agnes, meskipun tidak ada buku, proses pembelajaran masih bisa diantisipasi. Caranya, sekolah dan guru dapat mengunduh secara gratis lewat www.rumahbelajar.com.
Agnes menambahkan, berdasarkan pantauannya di beberapa kecamatan di Yogyakarta dan Magelang, proses pembelajaran K-13 tidak terhenti. Menurutnya, para siswa pun tetap dapat menikmati K-13 dengan gembira.
"Seharusnya proses pembelajaran tidak terhenti karena sebetulnya ada langkah antisipasi. Memang jauh lebih bagus kalau ada buku," katanya.
Sumber: beritasatu.com
Comments
Post a Comment